Pemberdayaan Bahasa Dan Sastra Jawa :: JaLur Sekolah

00.50

Cara Pemberdayaan Bahasa Jawa Dan Sastra Jawa Melalui Jalur Sekolah 

Pemberdayaan Bahasa Dan Sastra Jawa- Pelajaran bahasa Jawa di sekolah selama ini hanya termasuk dalam muatan lokal (mulok), sebenarnya, tidak menjadi masalah. Seluruh mata pelajaran sekolah yang bersifat budaya (humaniora) dan dianggap tidak memiliki nilai akademik, di negeri ini, selalu dimarginalkan. Hanya mata pelajaran tertentu—lazimnya yang diuji secara nasional saja—yang diunggulkan. Akibatnya, guru-guru bahasa daerah dan kesenian terpaksa mendapat status rendah dibanding dengan para pengajar ilmu eksakta yang berposisi lebih terhormat. Akibat lebih jauh. Minat untuk menjadi guru bahasa Jawa juga sangat rendah.
Pemaknaan bahasa Jawa sebagai muatan lokal semestinya tidak mandiri sebagai mata pelajaran tersendiri tetapi perlu diindiginasikan dengan mata pelajaran yang lain. Artinya, seperti yang terjadi di masa tahun 1950-an, bahasa Jawa dipakai sebagai bahasa pengantar untuk seluruh mata pelajaran. Setiap materi ajar dari mata pelajaran apa saja dapat diberi ilustrasi dengan bahasa Jawa, meskipun terbatas pengenalan kosakata yang dikenal sehari-hari di lingkungan para siswa. Dengan demikian bahasa Jawa diharapkan dapat diberdayakan di dunia aakademik sebagai bahasa ilmiah.

Jenjang Pendidikan Pemberdayaan Bahasa dan Sastra Jawa Melalui Jalur Sekolah


Pada jenjang pendidikan dasar, pembelajaran bahasa Jawa dipusatkan bagi kepentingan komunikasi verbal sehari-hari saja. Dengan demikian materi ajar jangan seperti pada masa sekolah rakyat di tahun 1950-an. Para siswa jangan dituntut menghafal vokabuler yang rumit-rumit dan bukan keperluan mereka sehari-hari. Pemakalah cenderung mengusulkan dipilih kosakata yang bersifat lokal yang berlaku di daerah masing-masing. Jangan selalu mengacu pada buku ajar masa lalu atau bahasa Jawa keraton yang terlalu rumit dan berlapis-lapis itu.
pemberdayaan bahasa dan sastra jawa

Gramatika atau paramasastra tidak perlu diberikan secara khusus dan rinci, cukup disinggung sedikit, serta tidak menjadi pokok bahasan tersendiri. Pada tingkat dasar, di awal pelajaran, sebaiknya diajarkan bahasa ngoko saja. Semua magfum bahwa kualitas kemanusiaan seseorang tidak hanya diukur dari penggunaan bahasa krama atau ngokonya. Dengan demikian bahan bacaan perlu diformat hanya percakapan antar teman atau saudara se¬kandung. Setelah fasih menggunakan bahasa ngoko barulah penguasaan bahasa ditingkatkan atau dialihkan ke bahasa krama dengan penerapan yang tepat.
Materi ajar ditetapkan yang serba prakris serta harus berorientasi kepada kepentingan anak didik dan dipilih bahasa Jawa lokal; termasuk dialeg daerah siswa masing-masing dan bukan bahasa Jawa keraton saja. Hilangkan sikap konservatif, yang hanya mengacu pada pedoman bahasa baku seperti yang diajarkan para guru di dasawarsa 60-an yang terkesan dipaksakan dan kurang bermanfaat bagi anak-anak Jawa sekarang. Bagi siswa yang memiliki minat besar untuk mendalami bahasa dan sastra Jawa sebaiknya diarahkan untuk memilih dan melanjutkan studi kesarjanan ke Fakultas Sastra (seperti halnya para peminat bahasa Kawi atau Jawa Kuna).

Ambisi penjejalan muatan-muatan non kebahasaan—apalagi tidak sesuai dengan perkembangan jiwa anak didik—terhadap pelajaran bahasa Jawa sebaik¬nya dapat dikekang untuk sementara. Pendidikan sopan santun, sampai hal-hal yang bersifat moral atau etika seyogyanya diselipkan di setiap mata pelajaran, bukan hanya menjadi kewajiban guru pelajaran bahasa/sastra Jawa dan agana saja. Sekali lagi, pelajaran bahasa Jawa untuk bercakap-cakap (conversation) bukan untuk membaca (reading); yang jelas keduanya perlu dibedakan secara tegas. Dengan demikian teks pelajaran dirancang untuk keperluan percakapan sehari-hari saja. Pada kesempatan tertentu para siswa dapat dilatih untuk membuat karangan percakapan pendek dengan tema kehidupan anak-anak sekarang; fungsi guru sebagai motivator dan evaluator.

Pada jenjang pendidikan menengah, anak didik dapat mulai dikenalkan pada bentuk-bentuk bacaan bahasa Jawa yang memiliki kandungan nilai moral, kebersamaan, kesetia¬kawanan, kepahlawanan, keragaman budaya, kesenian, dan sebagainya. Anak didik juga dapat diperkenalkan bacaan yang berasal dari berbagai macam, bentuk, jenis, atau genre tembang Jawa yang sederhana. Bukan hanya macapat saja, tetapi juga tembang dolanan misalnya. Dalam pelajaran teks tembang ini yang terpenting bagaimana kebagusan menembang, baru pemahaman isi dari cakepannya.
Sumber : Bambang Murtiyoso

Demikian materi atau makalah tentang pemberdayaan bahasa dan sastra jawa melalui jalur sekolah
 yang mampu kami rangkum, semoga bermanfaat.
Terima kasih

Artikel Terkait

Previous
Next Post »